Ketagihan Podcast

Blog Harian

Sudah hampir setahun, saya menjadi pendengar Podcast. Di artikel ini saya akan menceritakan beberapa hal seputar podcast dan hal menarik yang saya temukan.

Kalau kamu gak tahu, Podcast bisa dibilang mirip radio yang artinya menggunakan media audio untuk menggapai penontonnya. Ada juga sih podcast dalam bentuk video, namun dari pengamatan ini tidak terlalu populer.

Advertisements

Cita-Cita yang Akhirnya Terjawab

Bhaguz

Mungkin sekitar 10 tahun lalu, saya berada di STMIK AMIKOM dalam rangka mendaftarkan diri menjadi mahasiswa baru. Salah satu moment yang paling saya ingat adalah mendengar seorang dosen sedang menerima telepon dan menjawab pertanyaan seputar troubleshoot komputer. Seketika dalam hati saya berbicara sendiri:

Hebat ya, gak pakai lihat komputer bisa jawab lengkap dan singkat. Besok aku mau jadi seperti itu juga deh

Well, saya kasih tahu ya gaes. Jangan pernah menyepelekan mimpi kecil semacam hal di atas. Karena ternyata sekarang saya sampai di sana juga. Yoi, saya cukup sering membantu orang terdekat untuk troubleshoot produk Apple lewat dunia maya atau cara lainnya.

Bahkan ada beberapa momen yang paling saya ingat dan ingin ceritakan sedikit dalam tulisan ini. Biar menjaga privasi, kita tulis saja nama “pasien” saya waktu itu dengan A, B dan C.

Hey Siri, how many days to go to NGANU?

Bhaguz

Hampir setiap hari saya memberikan pertanyaan itu kepada Siri. Bedanya adalah kata NGANU saya ganti menjadi sebuah hari yang sudah saya tunggu selama hampir setahun ini. Ibarat judul lagu, ceritanya sedang menghitung hari gitu deh. Hari apaan sih?

 

Jika semuanya lancar, saya akan menikah dalam waktu dekat. NGANU adalah istilah yang saya gunakan untuk hari tersebut. Terserah kamu dalam memaknai deskripsi kata NGANU. Haha..

Terima kasih untuk semua teman-teman di Facebook yang heboh menanggapi status saya. Tenang, saya bukan menikah di KUA pada hari Kamis lalu. Ada beberapa dokumen yang harus dibereskan saja. Semuanya sudah sesuai jadwal, semoga berlangsng demikian adanya hingga hari H.

 

Pengalaman Perdana Mencoba MacBook 12 inci

Review

Pengalaman Perdana Mencoba MacBook 12 inci

Malam ini saya untuk pertama kalinya mencoba MacBook 12 inci untuk mengetik lebih dari 5 menit. Ya, sebelumnya saya hanya dapat mencoba MacBook berukuran terkecil dari Apple ini dalam waktu singkat di Apple Authorized Apple Store atau kesempatan lainnya.

Beruntungnya saat ini saya mendapatkan pinjaman MacBook 12 inci edisi tahun 2017 dari mas Arief Rahman, silakan kunjungi website beliau di laman BackPack Story.

Belajar 1Password Bersama Mas Cahyo

Blog Harian

Setahun lalu saya pernah naik kereta untuk pulang ke Jogja dan mendapatkan teman duduk yang cukup seru untuk ngobrol semaleman. Anggap saja namanya mas Cahyo karena saya lupa namanya. Obrolan saya dan mas Cahyo gak jauh dari pekerjaan saya yaitu nyobain aplikasi di iOS.

Mas Cahyo baru saja membeli iPhone 5s bekas. Dia cerita bahwa iPhone ini dibeli dengan harga murah di amplaz alias Ambarukmo Plaza di Jogja. Kenapa bisa murah? Karena ternyata itu iPhone dari Jepang yang suara cekrek alias shutter tidak bisa dimatikan.

Singkat cerita mas Cahyo punya keluh kesah dengan akun email yang dia gunakan. Setiap ganti hape, dia harus ganti password karena acap kali lupa. Belum lagi kebiasaan buruknya yang selalu menyamakan semua password. Baik dari email Yahoo, Gmail, Facebook dan beberapa akun sosial media.

Pelajaran Hidup dari Driver UBER: Cita-Cita dan Realita

Blog Harian

Selama setahun ini saya semakin sering mengandalkan jasa transportasi online seperti UBER, GO-JEK, GRAB atau lainnya dalam bepergian. Praktis, murah dan bonus cerita seru dari pengemudinya adalah salah satu yang sering saya dapatkan. Dari lebih dari 50 perjalanan yang pernah saya lakukan dengan UBER di tahun 2017, ini salah satu cerita yang sangat membekas dan ingin saya bagikan kepada teman-teman pembaca.

Program #1Month1Case yang Menyenangkan

Blog Harian

Sudah beberapa bulan ini saya menggunakan sebuah ponsel iPhone 7 Plus. Ini adalah pertama kalinya untuk saya membeli iPhone dalam kondisi baru, di saat website Apple juga memajang ponsel ini sebagai flagship alias produk paling tingginya. Karena hal tersebut, iseng saja saya berjanji pada diri sendiri untuk membuat sebuah program belanja bulanan. Namanya #1Month1Case. Gak usah main tebak-tebakan, intinya sederhana saja. Yaitu beli case baru setiap sebulan sekali..

Awalnya teman-teman protes, geleng-geleng dan setengah tidak percaya. Ngapain harus belanja setiap bulan dalam nominal ratusan ribu untuk membeli case? Padahal case iPhone yang bagus juga bisa bertahan dalam waktu lama, awer setahun atau kadang lebih. Saya jawab dengan sederhana saja, karena saya maunya begitu. Sekarang sudah berjalan 6 bulan dan saya sudah memiliki 6 case iPhone 7 plus.

Seminggu di Jogja..

Blog Harian

Sejak akhir Januari 2017 lalu, saya belum kembali lagi ke kota kelahiran tercinta, Yogyakarta. Bekerja di Jakarta dalam suasana kantor baru dan sebagian besar teman duduk seruangan yang baru membuat banyak kesibukan dan masa adaptasi buat saya. 

Belum lagi rute berangkat dan pulang kantor yang tentu saja berubah. Gak jauh sih, tetapi namanya kata berubah pasti butuh kata pendamping setianya yaitu terbiasa. 

Di Jogja ini saya sempat meluangkan waktu untuk berkunjung ke beberapa tempat. Mari saya bagi cerita menarik saya selama di Yogyakarta..

Lokal Hotel dan Klinik Kopi


Lokal Hotel cukup ngetop sejak film AADC2 diputar tahun lalu. Saya akhirnya sempat mencoba hotel ini baik dari sisi kamar inap dan juga kolam renangnya. Asoy banget ya ini kamar hotelnya karena ada meja kerja, kamar mandi dan TV di lantai bawah dan naik ke lantai 2 adalah kasur dan balkon kecil menghadap ke kolam renang.

Setelah mengobrol dengan teman lain, ternyata salah satu pemilik Lokal Hotel ini adalah Apple Fanboy kelas berat di Indonesia. Ya gak kaget sih, karena saya menemukan docking speaker Phillips dengan konektor Lightning di sebelah kasur. Ya untungnya sih gak sampai ada Apple TV ya di setiap kamar.. Haha.


Ritual wajib berikutnya yang biasa saya lakukan saat pulang ke Jogja adalah main ke Klinik Kopi. Mas Pepeng seperti biasa selalu mengingat nama saya dan lupa dengan namanya Wening. Huhu. Kami minum beberapa jenis kopi dan juga ngobrol tentang banyak hal menarik seputar kopi. Salah satunya adalah rencana mas Pepeng untuk ‘naik haji’ ala anak kopi yaitu ke Jepang untuk liburan. Misi utamanya sih liburan, misi sampingannya ya silaturahmi ke beberapa kedai kopi spesialis manual brew di negara tersebut. Saya pernah dengan cerita bahwa mas Pepeng sering bertukar email dengan para coffee roastery ternama di penjuru dunia untuk saling berbagi ilmu. Ini nih yang mahal dari Klinik Kopi, semangat belajar dan berbagi ilmu.

Makasih mas Pepeng, ditunggu ceritanya sepulang dari Jepang besok Juli ya..

Bumi Langit Resto


Saya, Wening, Dhita dan Fery berkunjung ke Bumi Langit Resto pada hari Kamis 25 Mei 2017 kemarin. Tempat ini adalah rumah makan sekaligus penginapan dan perkebunan serta peternakan dengan fokus kembali ke alam dan olahan makanan organik. Saya belum riset lebih jauh lagi mengenai tempat ini, kamu bisa baca-baca di website mereka saja ya.

Bumi Langit terletak di selatan kota Yogyakarta dan memerlukan waktu tempuh sekitar 30 menit dari rumah Dhita di daerah Godean menggunakan mobil. Jalannya cukup menanjak di bagian akhir dan untuk masuk ke sana masih menggunakan jalan bebatuan yang tidak ramah untuk mobil dengan suspensi rendah. Sampai sana kami disambut bangunan Joglo untuk tempat makan dan kursi anyaman bambu serta sederetan kursi kayu dan meja besar lainnya.


Menu makanan di sini cukup unik dan porsinya mengenyangkan. Saya pesan spaghetti dengan mie ketela dan daging sapi. Dhita memesang nasi campur bali, Fery makan nasi goreng kambing dan Wening memesan urap untuk cemilan awal dan juga bakmi jawa. Jam 10 pagi sudah makan bakmi jawa kuah, ada yang salah sepertinya.. Menu minumannya juga gak kalah seru dan segar. Saya pesan jus markisa campur jeruk, Fery (salah) pesan kefir dan gula, Dhita dan Wening minum lemon tea dan teh sereh deh kalau gak salah.


Sembari menunggu makanan, kita foto-foto di tempat ini karena sangat bersih dan cuaca juga cerah. Saya mencoba kamera baru yang digunakan Fery, Nikon D800. Yes, kalau kamu kenal Fery yang selama ini menggunakan Canon, beralih ke Nikon adalah sebuah hal yang membuat saya cukup kaget. Kaget lagi begitu tahu hasilnya dan keribetan tombol pengturan di merek ini. Ya mungkin belum biasa saja sih.

ART-JOG


Pameran seni tahunan paling ngetop di Jogja, ART-JOG hampir selalu dilakukan menjelang bulan puasa hingga hampir lebaran. Kalau gak salah saya sudah 5 tahun berturut-turut menyempatkan diri untuk datang ke ART-JOG. Bukan sebagai seniman, bukan sebagai calon pembeli karya. Ya ingin tahu saja apa sih seni yang sedang ngetop tahun ini baik untuk lukisan, foto, patung atau benda lainnya.


Bagi saya, ART-JOG tahun ini bisa dibilang titik balik dari banyak hal negatif yang terjadi tahun lalu. Dari kasus salah satu nama sponsor yang membuat acara ini banyak mendapatkan cibiran atau salah satu instalasi seni yang tidak berperikehewanan pada ART-JOG tahun lalu. Di ART-JOG tahun ini saya merasakan karya yang lebih semarak, warna-warni dan beberapa diantaranya lebih dapet banget dengan suasana di Yogyakarta pada masa sekarang ini. 


Catatan sepele (eh mungkin gak sepele sih) dari saya untuk ART-JOG kali ini, seniman kondang Joko Pekik tidak menghadirkan karyanya dan sebuah karya seni yang dijual paling mahal (1.8 M) justru tidak “terlihat” mahal untuk sebagian orang. Kalau kamu mau ke ART-JOG 10 di tahun ini, pameran ini masih dibuka sampai tanggal 19 Juni mendatang. Silahkan simak info lengkapnya di halaman ARTJOG.

Masih Rindu..

Masih banyak tempat menarik yang saya kunjungi selama di Jogja beberapa hari lalu. Dari Mie Ongklok Japuto di Jl. Magelang, Warung Ocik spesialis makanan Medan, Mie Ayam Tumini dan beberapa lainnya. Mayoritas memang tempat makan dan nongkrong, karena kalau mau belanja belanja juga buat apa kan itu bisa saya lakukan di Jakarta.

Sebetulnya masih ada beberapa tempat yang ingin dituju, beberapa teman yang ingin diajak ngobrol dan gojek kere khas Jogja dan beragam kegiatan lainnya. Namun itu harus ditunda beberapa saat sampai Lebaran nanti. Saya akan segera kembali ke Jakarta dengan semangat untuk kembali pulang, membayar rasa rindu yang masih tertahan untuk Jogja..

Liburan ke Bangkok, Panas Terik dan Jalan – Jalan (Part 3)

Blog Harian

Ternyata rencana saya untuk membuat catatan di blog setiap hari selama liburan hanya bertahan semalam saja.. haha. Maaf ya teman-teman pembaca, cerita ini baru sempat saya tulis sekarang. Ceritanya berlanjut dari kegiatan setelah sampai di hotel. Yuk lanjut!

Setiba di hotel dan ngobrol dengan teman-teman disini, akhirnya diputuskan untuk makan malam. Saya pilih untuk instal Foursquare dan mencari tempat makan menarik. Keyword pertama yang digunakan adalah Hallal Food lalu mencoba keyword Seafood. Pilihan jatuh ke rumah makan nasi goreng Seafood di dekat hotel.

Tempatnya seperti sepanjang jalan kecil yang berisi beragam rumah makan kaki lima di Jakarta atau Yogyakarta gitu deh. Awalnya kita bingung mencari rumah makan yang ada di gambar, namun akhirnya ketemu karena salah satu yang menggunakan tempat cukup luas.

Kejadian paling lucu adalah saat saya memesan menu. Pelayan di rumah makan ini tidak bisa bahasa English, jadi saya tunjukkan saja gambar nasi goreng kepiting di Foursquare dan sebuah screenshot dari Google Translate yaitu kata-kata No Spicy alias tidak pedas.

Makan, ngobrol dan lihat orang-orang di rumah makan ini yang porsi makannya cukup sama dengan orang Indonesia. Tetapi ya itu tadi, saya gak paham mereka bicara apa. Makanan datang dan langsung disantap. Porsinya memang tidak besar namun cukup kenyang dan tadinya mau tambah menu lain tetapi jadi ingati kita harus mengulangi adegan menunjukkan gambar di Foursquare, batal aja deh.


Selesai makan, cari Taxi dan akhirnya balik hotel. Ada hal unik yang saya temui saat akan naik Taxi yaitu sebuah vending machine alias mesin untuk membeli sesuati dengan koin. Di Jepang, vending machine sangat terkena dengan beragam menu makan dan minuman yang bisa kamu pesan. Untuk di Thailand, saya bertemu dengan mesin ini yang berfungsi membeli air minum. Jadi siapa saja bisa memasukkan koin, pilih kapasitas air yang mau dibeli dan masukkan di botol yang kamu bawa. Mudah dan praktis, cukup hemat terutama untuk pekerja seperti supir Taxi seperti yang kami temui.

Sarapan, Pindah Hotel dan Jalan-Jalan

Masuk hari kedua di Bangkok, Thailand. Saya dan teman-teman sarapan di hotel tempat kami menginap. Satu hal yang saya tahu tentang Thailand adalah suasana berkabung yang sedang terjadi di negara ini karena Raja Bhumibol Adulyadej meninggal dunia akhir 2016 lalu. Ternyata suasana ini sangat lekat dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu saat saya sarapan di restoran, mayoritas orang lain di ruangan ini menggunakan bahju warna hitam. Di semua public place seperti mall, kantor atau sekolah juga memajang foto dari raja tersebut.

Selesai sarapan, kita pindah hotel ke daerah yang agak di kota. Yaitu Sukhumvit untuk meletakkan barang dan lanjut jalan-jalan. Kami mendapatkan hotel ini dari paket Air Asia Go yaitu beli tiket pesawat dan juga hotel secara paket. Harganya cukup murah namun saat melihat beberapa review, sepertinya kurang memikat. Namun ya sudah dipesan, jadi kita jalani saja.

Sampai di hotel saat itu masih jam 11 siang, jadi kami belum boleh masuk kamar. Barang titip di front office dan kami lanjut ke rencana hari itu yaitu jalan-jalan ke Wat Po menggunakan transportasi umum.

Rencana Naik Bus yang Gagal

Info penting untuk kamu yang mau jalan-jalan di daerah Sukhumvit. Jangan mengandalkan Google Maps untuk peta navigasi dengan jalan kaki. Karena daerah ini cukup padat dengan jalan layang dan beberapa gedung tinggi. Sehingga bisa saja kamu salah arah karena peta yang kurang akurat. Oh iya, Google Maps di Thailand juga belum mendukung Offline Mode, jadi pastikan kamu punya paket data internet untuk menggunakan layanan navigasi ini di Thailand.

Awalnya kami mengandalkan Google Maps untuk mencari informasi jadwal bus yang bisa membawa kami ke daerah Wat Po. Namun setelah jalan dari halte ke halte dan tidak mendapati bus dengan nomor yang dicari, akhirnya nyerah dan balik cari GrabCar seperti hari sebelumnya.


Wat Pho adalah kompleks kuil yang sangat terkenal di Thailand. Salah satu objek paling menarik di dalamnya adalah patung Budha tidur dengan ukuran sangat panjang. Di sekitar Wat Pho juga ada beberapa kuil lain yang tidak kalah menarik, bahkan ada yang baru bisa dituju dengan menyebrang sungai besar. Di sekitar sana juga ada Grand Palace, semacam Kraton mungkin ya kalau di Yogyakarta. Tetapi karena kami hanya punya waktu dan *uhuk* dana yang terbatas, jadi hanya mengunjungi Wat Pho.

Ini antrinya lumayan loh, harus sabar ya 😙


Gimana suasana di sana? Puanaass terik. Kami datang sekitar jam 12 dan semua foto terasa tidak menarik, ya karena matahari tepat berada di atas kepala dan langit cukup flat alias kurang berawan. Untung punya Joby Grip Tight + Remote, jadi bisa selfie berdua dan jepret menggunakan remote. Hehe…


Selesai dari Wat Pho, Wening mengajak saya untuk lanjut ke tempat lain yaitu Jim Thompson Museum. Tempatnya sih menurut Google Maps, tidak jauh. Cukup jalan kaki 30 menit saja. Jadi deh kita jalan kaki, dan 30 menit kemudian.. Jarak tempuh yang dicapai belum ada separuhnya. Nyerah deh.. Mampir KFC dan makan dulu. Prediksi saya sih Google Maps salah perkiraan, karena saya yakin jalan kaki 30 menit  itu seberapa jauh.

Selesai makan dan ngobrol, akhirnya naik Taxi deh ke Jim Thompson Museum. Sudah cukup dekat dan langsung cegat dari pinggir jalan saja, tanpa layanan Grab.


Kamu pasti belum tahu Jim Thompson Museum kan? Jadi Jim adalah seorang warga negara Amerika Serikat yang tinggal di Thailand sebagai arsitek. Da memutuskan untuk menetap di Thailand, menikah dengan orang lokal dan mengembangkan industri kain sutera. 

Setelah sekian tahun di bisnis kain sutera, dia tiba-tiba harus pergi ke Malaysia dan tidak kembali lagi hingga sekarang. Diduga Jim adalah anggota CIA yang mendapat panggilan tugas intelejen dan harus “menghilang”. Tetapi ada juga yang bercerita bahwa Jim diserang harimau di hutan.

Tempat tinggalnya yang menyimpan banyak benda seni, akhirnya dibuat menjadi museum dan sebagian pemasukannya disumbangkan ke lembaga sosial.


Tur museum di Jim Thompson dibuat menggunakan regu dan berlangsung setiap 30 menit sekali. Ada 1 pemandu yang akan menjelaskan semua bagian penting di setiap sudut rumah ini dan kamu akan mendapatkan banyak cerita menarik. Mulai dari desain rumahnya yang menggunakan bentuk rumah panggung, benda keramik dan beberapa peninggalan alat tenun sutera pada jamannya

Makan Malam di Usman Thai Muslim Food


Selesai dengan Jim Thompson, naik GrabCar untuk kembali ke hotel dan cari makan di dekat sana. Ternyata Bangkok itu kalau macet serem juga ya seperti Jakarta. Namun di sini tidak banyak suara klakson atau ibu-ibu dengan gaya nyetir motor belok kanan, pasang sein kiri. Upss..

Sampai hotel dan pertama kali lihat kamarnya. Tidak buruk sih. Ada beberapa keramik yang ditambal alias diganti dengan warna berbeda, mungkin bekas renovasi. Sisanya cukup baik meskipun kecil dan terbatas.

Selesai mandi dan beres-beres, akhirnya diputuskan jalan kaki untuk cari makan malam. Kita ke Usman Thai Muslim Food karena rangking di Foursquare sangat bagus dan tentunya menyajikan makanan halal.

Ada yang unik di daerah sekitar rumah makan ini. Sekitarnya adalah tempat pijat yang dipenuhi beberapa wanita dengan bergaya “nongkrong” di depan toko. Rumah makan ini terletak di dalam gang yang cukup lebar dan atmosfirnya tentu saja berbeda dengan tempat pijak di depan sana. Ya iyalah..

“Makan apa?” Saat duduk langsung ditanya seperti itu. Wah ternyata pelayan di RM Usman ini kebanyakan dari Malaysia dan bisa Bahasa Indonesia dengan fasih. Kami akhirnya makan Tom Yam Kuah – intinya sih Tom Yam yang menggunakan kuah bening dan tidak pedas. Iya tidak pedas tetapi ada jahe banyak sekali di dalamnya. Seger gitu deh. 

Selesai dari rumah makan ini, balik ke hotel dan istirahat. Kegiatan besok adalah jalan-jalan di mall dan cari oleh-oleh. Saya tulis di artikel berikutnya ya!